Manusia Soliter itu Bernama Wahib
 
Manusia Soliter itu Bernama Wahib
 

Sumber : Solopos, 23 Januari 2005
 

Pada awal dekade 80-an, dunia intelektual-keagamaan Indonesia dihebohkan oleh terbitnya buku kecil yang ditulis oleh anak muda progresif yang telah almarhum, dialah Ahmad Wahib. Judul bukunya sangat provokatif Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Buku ini dulu sangat laris, dan menjadi bacaan yang sangat menegangkan bagi kalangan mahasiswa, aktivis, dan para pemikir Islam. Buku yang sangat profokatif itu, ketika itu langsung menimbulkan geger besar di kalangan intelektual Indonesia. Bahkan sosok Prof. Rasyidi sangat mengecam keras dan menghimbau agar buku itu ditarik dari peredaran di pasar. Namun, karena banyaknya generasi muda yang salut dan apresiatif dengan keberanian Wahib mendekontruksi pemahaman keberadaan umat ketika itu, semisal Johan Effendi, buku malah mengalami cetakan berulang kali. Masyarakat semakin tertarik dengan pemikiran yang cemerlang yang dilontarkan Wahib, dan mereka seakan “terhipnotis” dengan berbagai hal-hal kontroversial yang dilontarkan Wahib. Sehingga tidak salah kalau banyak yang berpendapat bahwa Wahib adalah sebuah teks yang kontroversial.

Buku yang ditulis oleh Aba Du Wahid ini mencoba meneropong kembali gagasan Wahib dalam catatan hariannya, karena bagi penulis, sosok Wahib yang begitu progresif dalam pemikirananya kurang mendapat perhatian dan apresiasi yang serius dari dunia intelektual Indonesia. Bahkan yang lebih ironis, sosok Wahib ternyata malah mendapat perhatian dari dua pengamat Australia,s eperti AH Jons dan Greg Barton. Karena sedikitnya perhatian tentang Wahib, khususnya dari para akademisi Indonesia sendiri, diakui oleh Robert W. Hefner sebagai sesuatu yang patut disayangkan. Dalam pandangan Greg Barton, Wahib dikategorikan sebagai pemikir Islam kontemporer yang bercorak liberal dan neo modernis serta setara dengan Nucholis Madjid, Johan Effendi, dan Abdurrahman Wahid. Sementara dalam pandangan AH Jons, Wahib digambarka sebagai sosok pemikir yang penuh fasilitas meskipun cara kerjanya masih amatiran. Sedangkan penulis buku ini melihat Wahib sabagai sosok pemikir yang sangat apreasiatif terhadap isu pluralisme agama. Sebuah isu yang sangat dewasa, terlebih dengan makin runyamnya konflik antar agama (hal. vii-viii).

Dalam konteks pluralisme agama Wahib sebenarnya cukup referentif untuk dikaji. Karena dalam catatan hariannya, Wahib telah mengemukakan beberapa hal yang signifikan yang berhubungan dengan wacana pluralisme agama, seperti kemungkinan berdialog dengan anti atheisme, teologi di kalangan Kristen, konsili Vatikan II, sikap teologis terhadap agama-agama non-muslim, konsep sesama muslim, umat Islam manajemen kebudayaan dalam masyarakat majemuk, variasi kebudayaan di Indonesia, kebutuhan masyarakat majemuk, konsep “orang kita” dan “orang mereka”, dan lain sebagainya. Beberapa konsep ini lahir dari Wahib karena dia sangat peka terhadap berbagai fenomena sosial yang melingkupinya ketika itu. Pada saat itu, Wahib berada pada tantangan yang sangat luar biasa terhadap situasi sosial, politik dan keagamaan. Waktu itu Wahib sangat tertantang untuk menjawab isu-isu tersebut, terlebih dengan munculnya struktur sosial masyarakat Indonesia yang dpicu oleh perubahan sosial politik dan ketegangan mdernisasi dengan agama serta terpuruknya sosial politik umat Islam secara bertubi-tubi sepanjang babakan sejarah. Sehingga dalam diri umat Islam lahir sikap dan pandangan (das sein) yang cenderung tidak sesuai bahkan bertolak belakang dengan nilai-nilai ideal (das sollen), dan akhirnya mengakibatkan tercerai-berainya umat Islam dalam kelompok masing-masing. Mereka saling menebar “teror” terhadap kelompok yang lain dan mengklaim merekalah yang paling benar, sementara yang lain salah dan menjadi objek untuk dibenarkan dan diluruskan. Terjadilah konflik tajam ketika itu (hal. 102-103).

Dengan berbagai pergolakan situasi itulah Wahib merumuskan gagasanya dalam catatan-catatan yang berserakan. Dan konsep yang brilian ini pastilah berasal dari seorang yang cerdas dan kritis. Dalam perjalanan hidupnya, Wahib memang mengalami tantangan yang luar biasa. Dia selalu gelisah dan tidak pernah puas dengan berbagai jawaban persoalan yang ia dapatkan. Maka tidak salah kalau AA Nugroho menyebut Wahib sebagai manusia soliter.

Menurut cerita, apapun jawaban yang diterimanya Wahib tetap merasa belum memperoleh jawaban. Bahkan jawaban yang menurutnya cukup tentatif itu malah menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang krusial. Wahib tetap gamang. Suka merenung, sendirian menyandarkan diri di sebatang pohon, dan selalu berkontemplasi setiap waktu (hal 57). Karena watak gamangnya inilah, ketika di Jogjakarta dirasakan sudah kering, monoton, dan tidak konspiratif lagi, dia “melarikan diri” dan mencari tempat baru untuk memenui hasrat intelektualnya yang berkobar.
Walaupun kuliahnya ketika itu sudah tahap akhir, namun kuliahnya tetap tidak diselesaikan. Dan memang dia menemukan dirinya bukanlah ketika di bangku perkuliahan, namun ketika ia sangat aktif dalam kelompok studi “Limited Group” kelompok terbatas yang dihuni oleh kelompok intelektual progresif, tidak hanya muslim saja namun juga nonmuslim. Kelompok ini dibina oleh H A Mukti Ali yang oleh Abdul Munir Mulkhan dikatakan sebagai kelompok yang menjadi akar radikalisme anak muda Yogyakarta ketika itu.

Dari latar belakang inilah, maka wajar kalau pemikiran-pemikiranya sangat brilian, melampaui batas pemikiran ketika itu dan selalu menarik dikaji saat sekarang. Untuk itu tidak salah kalau penulis buku mengamati Wahib sebagai tokoh pluralisme, karena memang sejak di “Limited Group”, Wahib telah menjadi ikon tersendiri ketika itu.

Muhammadun AS, pencinta buku, tinggal di Krapyak Yogyakarta.

Switch language:
English
 
Kontak Langsung

menu produk resist
Jurnal Buku Red Rebels Komunitas Baca Pin Pricelist Buku
menu media resist
Resist Info Resensi Artikel
menu statistik website resist
Book submitted:
89
T-shirt Submitted:
86
Visited:
Online Visitor:
9
 
 
resistbook
resistbook