Bergabunglah pada kekuatan-kekuatan pembebasan yang nyata, yang ada di tengah-tengah kalian, seperti yang dilakukan oleh Tan Malaka.
(De Tribune, 7-Maret-1922)
Siang itu seorang laki-laki yang berwajah tegas dengan sorot mata tajam, berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya dan dijabatnya tanganku dengan keras. 'Namaku Tan Malaka' begitu ucapnya sambil duduk di sebelahku. Aku tertegun dan belum sempat ngomong ketika ia kemudian bilang 'Katanya kamu ingin bertanya banyak padaku?
Aku mencoba mengingat-ingat wajah seorang yang duduk di sampingku ini. Bajunya putih bersih dengan garis wajah yang diselimuti kabut. Tan Malaka, pria yang telah berhasil membuat bangsa ini memiliki keharuman. Tan Malaka, pria yang telah menuliskan banyak karya raksasa. Tan Malaka, seorang aktivis pergerakan yang menggoreskan perlawanan dengan kata-kata lugas.
'Ya aku ingin banyak bertanya dengan anda yang sering disebut-sebut sebagai seorang pejuang' tanpa ragu aku mengajaknya untuk bicara
'jangan kau sebut aku pejuang kalau apa yang aku dan teman-teman lakukan kalian sia-siakan' dengan muka lugas ia ucapkan kata-kata itu
Aku terhenyak dan sembari agak menjauh kulihat paras mukanya dari samping. Tulang pipi yang kurus itu masih menampakkan kerutan yang teguh. Aku seperti menyaksikan seorang yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh badai
'kalian telah menjerumuskan rakyat ini dalam penderitaan. Kulihat kalian mewarisi sifat-sifat para penjajah. Malah kalian bukan hanya meniru dengan persis, tapi melebihi apa yang penjajah lakukan dulu'
Aku masih saja diam mendengar suaranya yang berat dan kering. Ikal rambutnya yang agak bergelombang dengan sorot mata yang keras itu membuatku yakin, kalau Tan Malaka adalah aktivis yang tidak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri
'kusaksikan kalian yang masih muda tidak punya keberanian untuk menentang kesewenang-wenangan. Yang kalian kerjakan tidak seimbang dengan penderitaan rakyat yang sudah melampaui batas. Kupikir tulisanku sudah cukup bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan, tapi ternyata aku keliru'
Tan Malaka kulihat menundukkan muka. Matanya melihat tanah hitam di bawahnya dan kemudian menengokku. Matanya memandang diriku seolah-olah aku makhluk unik.
'apa yang kaukerjakan selama ini anak muda? Begitu tanyanya
'aku seorang mahasiswa yang juga aktif dalam dunia gerakan, aku sama sepertimu' begitu jawabku agak yakin. Tan Malaka menatapku tampak agak ragu dan berkata
'ketika aku seusiamu kujelajahi dunia pengetahuan bukan dengan pesona tapi bertanya. Saat aku seusiamu kubikin sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Aku ajari anak-anak tiga pelajaran penting, ketrampilan agar mereka menjadi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Sayang orang-orang kolonial itu menangkapku jauh lebih cepat dari yang kuduga. Apa yang kaukerjakan sekarang anak muda?
Agak terkejut aku dengan pertanyaanya yang tajam dan cepat. Kujawab dengan ragu-ragu 'yang kukerjakan diskusi, sesekali aku ikut merancang demonstrasi dan pernah aku tertangkap polisi gara-gara membakar foto penguasa. Aku juga ikut mengorganisir rakyat miskin dengan mendampingi mereka dan memaksa agar parlemen bicara dengan mereka. Kini aku aktif di salah satu LSM'
Ia tersenyum dan kulihat kabut di wajahnya berangsur-angsur memudar. Kali ini ia mendekat dan menepuk pundakku 'dulu aku punya kawan yang wajahnya mirip denganmu. Namanya Semaun, ia seorang yang pintar dan berani. Kami percaya untuk mengangkat harga diri bangsa yang terjajah tidak ada jalan lain kecuali melalui pendidikan dan perlawanan. Kami berdua bikin sekolah dan aku diajaknya masuk Sarekat Islam. Apa LSM itu seperti Sarekat Islam?
Aku tertegun dan bingung memberi jawaban. Sesungguhnya aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakan oleh LSM. Aku kadang disuruh nulis proposal lalu dibelakangnya ada anggaran dana yang jumlahnya besar sekali. Habis itu aku disuruh mengerjakan training, pelatihan bahkan pendidikan dengan honor dan biaya yang bisa untuk membeli HP. Tapi aku malu menjawab pertanyaan Tan Malaka. Malah aku kemudian ganti bertanya, 'apa yang dikerjakan Sarekat Islam?
Tiba-tiba Tan Malaka memandangku dengan heran. 'aku yakin kamu tak pernah diberitahu apa itu Sarekat Islam. Inilah kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan para penguasa kolonial. Kami terdiri dari anak-anak muda sepertimu. Kami ajak rakyat untuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak untuk menjadikan orang menjadi budak. Hal yang kemudian dikerjakan pula oleh PKI. Kami dulu menjadi anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota PKI. Aku yakin cerita sejarah tentang itu tak pernah sampai ke telingamu. Zaman sudah banyak berubah dan kulihat nasib bangsa ini jauh lebih buram. Aku banyak mendengar, kalau kalian sudah jadi penguasa yang menjajah rakyatnya sendiri. Rakyat itu kalian jadikan budak. Sekali lagi kalau kupandang muka para penguasa sekarang ini, aku jadi ingat muka para aparat kolonial dulu'
Aku hanya bisa tertunduk. Kuingat beberapa temanku yang menjadi politisi curang. Mereka aktivis partai tapi tidak punya gagasan besar untuk memerdekakan rakyat. Kuingat temanku yang menjadi kaum profesional yang juga terlibat dalam persekongkolan dengan para kapitalis.
'Kalian memiliki penguasa diktator yang kejam pada rakyat kecil. Menggusur tempat tinggal mereka, membuat pendidikan dengan harga yang mahal dan membebani rakyat kecil dengan ongkos kesehatan yang tinggi. Beberapa kali kulihat kalian ikut mensukseskan program yang didanai oleh bantuan asing dengan sikap yang loyal. Jika kausebut dirimu seorang aktivis perubahan sosial apa yang akan kaukerjakan anak muda? Kaudiamkan seorang pejabat yang kekayaanya melebihi pendapatan jutaan penduduk miskin. Kaubiarkan seorang pejabat tinggi bergaji 110 juta per bulan jauh melambung melebihi UMR buruh. Apa yang selama ini kaulakukan anak muda?
Lagi-lagi aku terdiam lama sekali. Kuingat-ingat apa yang pernah kukerjakan selama ini. Ikut dalam solidaritas teman-teman memantau anggaran. Ikut melakukan pengorganisiran terhadap para pedagang kaki lima. Ikut serta dalam barisan oposisi menentang militerisme yang hendak berkuasa. Dan kadang-kadang ikut nimbrung dalam program demokrasi.
Tan Malaka memandangku dengan rasa iba. Seolah-olah ia tahu kecamuk pikiran yang kurasakan. Ia berdiri dan menatapku, lalu perlahan-lahan ia mengucapkan serangkaian kalimat:
'Anak muda apa yang kaukerjakan selama ini memang masih jauh dari kebutuhan rakyat. Kau dikepung oleh kekuatan kapitalis yang tumbuh dan berpengaruh luas. Kulihat kau sendiri susah untuk mempertemukan teman-temanmu yang punya komitmen serupa. Kulihat jumlah kalian yang sangat kecil dengan ikatan disiplin yang longgar. Anak muda organisasimu harus belajar banyak dari sejarah Sarekat Islam atau PKI. Dua kekuatan politik yang dulu mampu mengetahui kebutuhan rakyat. Rasa-rasanya kalian harus baca ulang apa yang kutulis dalam Aksi Massa, Madilog dan Gerpolek. Pahami pikiran kami bukan dengan pisau akademik semata melainkan juga dengan pisau gerakan. Pahami semangat dan spirit yang melandasi kami semua. Camkan bahwa struktur kapitalis hanya bisa dilawan dengan kekuatan pengetahuan dan kekuatan pergerakan. Pengetahuan yang mengabdi pada kepentingan rakyat bukan yang menjadi alat bagi penguatan sistem produksi kapitalis. Maka senjata gagasan harus kalian kerjakan lebih dulu. Disitu kulihat kalian malas. Tak pernah kubaca tulisan kalian yang menggugah dan memberi inspirasi rakyat untuk melawan. Tak pernahkah dalam benak kalian untuk mendirikan pendidikan yang baik dan murah untuk melayani rakyat miskin? Anak muda kau adalah tumpuan rakyat miskin, jika kau ingin mengenal, memahami serta membela mereka, maka yang kaukerjakan hanya satu: hidup dan hayati kehidupan bersama mereka.
Ia menepuk pundakku dan melangkah pergi. Dari punggungnya kulihat ia berjalan bergegas. Aku berdiri ingin mengejarnya. Tapi langkah itu terlalu cepat dan ia menghilang di balik gubuk-gubuk yang baru digusur. Akh, Tan Malaka semasa hidupnya ia bersama orang miskin dan kini kutemukan dirinya di tengah perkampungan miskin. Kampung orang miskin yang jumlahnya sangat padat dan penduduknya menjadi golongan yang dulu diperjuangkan kemerdekaanya oleh Tan Malaka. Tan Malaka, bagiku kau adalah inspirasi yang tak pernah lekang oleh waktu. Menjadi martir untuk sebuah perubahan yang kini memakan korban anak bangsa sendiri. Andai kau masih di depanku tentu aku hendak mengatakan
“ya, kami memang tidak mampu melakukan seperti yang kaukerjakan. Kami berada dalam lingkungan pendidikan yang busuk. Pendidikan yang tidak bisa membuat kami dekat dengan penderitaan rakyat. Kami hanya memiliki sedikit intelektual besar yang mampu menuliskan penderitaan rakyat. Intelektual kami hanya sibuk dengan urusan perutnya sendiri. Kami juga tidak memiliki pemimpin gerakan yang berpandangan terbuka, bergerak progresif dan bisa memahami kebutuhan rakyat. Yang kami punya hanya pemimpin karbitan, pemimpin yang muncul sekejab dan tidak memiliki pikiran-pikiran besar yang menjangkau ke arah masa depan. Indonesia yang dulu kauperjuangkan kini sudah banyak berubah. Negeri ini telah membiakkan kebusukan: korupsi, perdagangan anak, pembunuhan, kriminalitas, dan kemiskinan. Tapi kami anak muda, yang ingin berbuat seperti yang kaulakukan. Kami ingin melawan, melawan, dan terus melawan. Terhadap penguasa yang diktator, aktivis yang menjadi broker politik, intelektual yang melacurkan ilmunya, dan preman yang menggunakan kekerasan pada rakyatnya sendiri. Itu yang ingin dan sedang kami kerjakan, Tan Malaka.
KOTAKNYA EDITOR
“Wahh...mercy ne bablas?!”
“Kiri kosooong!!”
“Tancaaaaapppp!!!!”
“”Awasss, ngarep truk,..rodo banter!!”
“Iki mung Sumber Kencono!!,.. Tancaaaaaapppp!!!”
Sebuah Kijang butut (nggak butut-butut amat sih..), penuh muatan: 6 orang yang kebanyakan tingkah dan nggak bisa diam serta barang-barang dagangan yang menyesaki ruang belakang sampai tengah sampai depannya. Si Kijang butut (nggak butut-butut amat sih..) ini membawa personal-personal Resist Book yang 66,66 % nya (maksudnya 4 orang dari kami) belum menikah, sisanya 33,33 %, atau 2 orang lainnya, adalah pengantin muda. Mereka membawa berkardus-kardus-kardus (saking banyaknya) buku beserta tetek bengek lainnya yang katanya buat pameran buku di gedung WTC. WTC??! Iyaa WTC, World Trade Center, bukan Waroeng Tegal Coy. Tapi WTC yang ini belum remuk ketabrak pesawat atau kena bom. Menurut sumber yang jelas tidak bisa dipercaya, para teroris belum menjadikannya sasaran pengeboman. Mungkin mereka sudah ngitung, biaya pengeboman dengan harga gedung lebih besar biaya ngebomnya. WTC yang ini dibangun di pusat kota terbesar ke 15 di Indonesia. Karena kota terbesar ke 1 sampai ke 14 dimonopoli Jakarta. Sopir si Kijang butut (nggak butut-butut amat lho..) adalah rekan kami yang dulu cita-citanya jadi pembalap F1. Mau ngalahin ‘Maikel Sumaker’ katanya. Sayang cita-cita mulia itu batal lantaran salah didikan. Ia kesasar ke ISIPOL UGM. Sebagai kompensasinya ia membayangkan rute Jogja-Surabaya adalah track balap F1 disambung Nascar. Tak ada Maikel Sumaker, sopir mercy dan bus Sumber Kencono pun tak apalah. Tak bisa ke Monaco, Sragen-Nganjuk tak apalah. Tak ada McLarren F1, Kijang butut pun (nggak butut-butut amat lho) tak apalah. Dan sungguh aneh bin ajaib kijang yang nggak butut-butut amat itu berhasil menyalip mobil mercy yang serba high tech di sebuah tikungan Sirkuit Ngawi Nganjuk. Seorang dari kami berteriak “ wah nyalipnya ngoyo...” “ ya..orang miskin mo ngalahin orang kaya ya harus ngoyo...” timpal Aan sang manajer distribusi IPPI. Kebetulan sekali para penumpangnya sudah lamaaaa sekali pingin lihat langsung balapan mobil F1 dan nggak pernah keturutan, gara-gara mereka menolak kapitalisme global. Repot khan? Maka jadilah, 6 anak cucu monyet yang doyan tempe dan nggak pernah pasti kapan kegilaannya kumat ini berteriak-teriak membisingkan ruang dalam si butut (nggak butut-butut amat kok) sambil bagi-bagi job-joban sambil ketawa-ketawa sendiri. Si mantan calon pembalap mengangkat dirinya sebagai Juan Pablo Mon-Toyik (bacanya Toyeek) yang mau ngalahin banyak sekali ‘Maikel Sumaker’ di luar sana. Mahkluk jelek di samping kirinya ngambil peran navigator nyambi motivator nyambi ‘proyek’ ngelempet (semacam kegiatan melipat-lipat) brosur Resist Book yang masih ‘hot’. Empat mahkluk yang lebih jelek lagi dibelakangnya: ada yang jadi suporter, ada yang jadi komentator TV sport, ada yang jadi manajer yang suka kasih dead line sekaligus ketua panitia perlombaan sekaligus kyai yang mendoakan keselamatan dan kemenangan si Mon-Toyiik rada edan ini. Mereka juga merangkap relawan pit stop. Tapi yang istimewa, F1 butut yang nggak butut-butut amat ini bisa membawa serta pit stopnya yang berisi 2 botol aqua, crispy kering (emang ada yang basah?), kacang sang hai, beberapa batangan Djie sam suuuu, permen segi tiga --sungguh-sungguh segi tiga, dan snack yang berbau kapitalis juga. Ada juga kotak P dan K....eh maksudnya P3K (PeletuK, PeletuK, PeletuK).
Sebentar,...sebentar, ini perlu dijelaskan dulu maksud dan duduk perkaranya. Kami selalu mengekspresikan semangat perlawanan yang sering kali bersifat anti kemapanan. Mengapa Maikel Sumaker yang kita kalahin? Yah, pasalnya si Sum suka sekali mendominasi sirkuit dan haus penaklukan. Mobilnya keren lagi, Ferari, simbol borjuisme, dominasi teknologi, sekaligus modal, dan kapitalisme. Coba ia balapan lawan Mon-Toyik, sama-sama ngontel sepeda kebo, rutenya Sragen-Nganjuk, belum tentu ia menang terus. Yah mestinya dia kali-kali kalah, gantian sama pembalap lain. Balap F1 sudah menjadi struktur kemapanan tersendiri. Yang menguasai podium itu-itu saja, nggak boleh yang lain. Semacam kompetisi yang nggak fair dan membosankan. Semacam dominasi sistem yang nggak tahu diri. Dan mengeruk terlalu banyak untung dari iklan-iklan yang penuh hasutan dan tipu daya (tapi tidak termasuk permen segi tiga lho).
Lalu mengapa Mercy? Lah, sama saja. Mercy simbol borjuisme. Orang miskin dilarang punya mercy. Kawan sekongkolnya Volvo, Limusin, dan Be eM Weee. Semuanya adalah para pendekar penguasa modal, ilmu, dan teknologi, sekaligus sejenis ilmu sihir hitam untuk mengelabui banyak orang yang namanya advertising tingkat tinggi. Kuda tunggang para pejabat. Lha, si Kijang Butut (yang nggak butut-butut amat)? Borju juga sih, tapi nggak kelewatan. Kalau plat nomornya dicat kuning, orang miskin masih boleh menikmatinya. Coba, mana ada pejabat kaya naik Kijang butut, baik yang butut amat atau yang nggak amat-amat? Coba lagi, mana ada Mercy atau Be eM Wee plat nomornya kuning? Nggak ada. Kalau plat merah justru banyak. Apalagi Ferari plat kuning, malah nggak pernah ada.
Nah, ceritanya kami belajar ngalain kecoa keren tunggangan para pejabat ini. Sambil nganterin barang-barang dagangan supaya ada yang mau beli, yah buku-buku kami yang beken itu.
Pada periode penerbitan Agustus ini, Resist Book menerbitkan dua buku seri revolusi, dan sebuah buku lain yang berbicara soal revolusi. Mengapa revolusi? Masih relevankah kita bicara soal revolusi, dengan segala slogan-slogan revolusionernya? Bukankah zaman sudah berubah? Bukankah kini kita punya ksatria muda bertampang keren yang namanya globalisasi?
Bagi kita yang hidup dalam kelemahan posisi tawar dan kekuasaan rakyat di depan besarnya kekuasaan negara yang tingkah lakunya tak terkontrol, kiranya sulit membayangkan suatu aksi revolusi lokal di mana komunitas-komunitas rakyat akar rumput bangkit melawan para aparat dan penguasa yang korup. Sesulit membayangkan barisan rakyat mengambil alih kekuasan dan otoritas pemerintah, mengejar-ngejar, menangkapi dan memenjarakan pejabat-pejabat negara, serta menegakkan kedaulatan rakyat di atas korupsi dan penyelewengan kekuasaan negara. Di sekolah, kita tidak pernah menerima pelajaran sejarah semacam itu. Padahal sungguh kita mewarisi riwayat perlawanan yang sangat penting itu. Buku Anton Lucas yang berjudul gagah, “One Soul One Struggle”, mengungkapkan episode perlawanan seperti itu. Di mana para penunggang mercy dan Be eM Wee yang selalu kolonialis dan borjuis itu dicegat, dibetot keluar, ditendang bokongnya, di gelandang, dan dicopot jabatannya oleh para penunggang Kijang butut (yang ini lumayan butut) pejuang rakyat.
Melalui serangkaian riset yang panjang, mendetail, serta mobilisasi fakta yang kaya raya, Anton Lucas mengungkapkan sebuah episode revolusi sosial yang sering luput dari perhatian. Aksi-aksi masyarakat sipil yang dikenal sebagai “Peristiwa Tiga Daerah” ini terjadi antara Oktober hingga Desember 1945 di Kabupaten Brebes, Tegal, dan Pemalang di Keresidenan Pekalongan, Jawa Tengah. Tidak terlalu jauh dari Sragen dan Nganjuk. Seluruh elite birokrat, residen, bupati, wedana, camat, dan sebagian besar lurah di tiga daerah itu digulingkan, “didaulat”, oleh kelompok-kelompok sosial yang memiliki akar serta diganti oleh pemerintahan baru yang berasal dari kelompok-kelompok sosial itu. Sejarah tiga daerah ini sangat penting sebagai pelajaran tentang revolusi sosial di Indonesia, di mana kekuatan rakyat yang terorganisasi mampu berhadapan dengan aparat yang arogan, korup, dan menindas.
Lantas globalisasi?? Ksatria muda globalisasi nggak bisa melakukan aksi perlawanan demi membela rakyat miskin seperti itu. Nada nafas dan pita suaranya bukan untuk keadilan. Coba dengar retorika ini, “Pejabat-pejabat mengkorup uang negara, mencuri harta rakyat, menipu dan menindasnya. Kembalikan kedaulatan rakyat! Hukum harus ditegakkan! Koruptor harus ditangkap! Globalisasi harus di jalankan!”. Aneh khan?
Vale, dan jaga selalu kesehatan.
BUKU 'ONE SOUL ONE STRUGGLE':
SATU SEMANGAT, SATU TUJUAN
Tidak ada perbedaan dulu antara agama dan bukan agama. H. Zaini dan Nasron tidur di tempat saya dan omong-omong sampai pukul dua belas malam atau pukul tiga pagi. Apakah ada perbedaan konsepsi mengenai revolusi? Tidak ada. waktu itu masih zaman “Merdeka”. Apa artinya merdeka? Merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kami mau menjadi satu negara merdeka. Bentuknya akan ditentukan kemudian. Kami sudah tahu bahwa Kromo lawi, PKI, serta kaum sosialis Tegal (kelompok KNI) adalah berbeda. Di tingkat daerah, kami mengikuti siapa saja yang progresif!
Penggalan di atas merupakan salah satu hasil wawancara dalam penelitian Anton E Lucas yang panjang dan melelahkan mengenai revolusi sosial di Tiga Daerah, yang kemudian dibukukan oleh Resist Book dengan judul One Soul One Struggle. Penulisan sejarah dengan menjadikan wawancara sebagai salah satu sumber dokumen disebut dengan metode oral history atau sejarah lisan. Buku ini menjadi amat berharga, di samping pentingnya peristiwa Tiga Daerah itu sebagai salah satu episode dalam sejarah perjuangan bangsa, metode yang digunakan tersebut masih relatif baru dalam penulisan sejarah sehingga dapat menjadi acuan bagi peneliti-peneliti yang akan menggunakan metode tersebut.
Ada semacam sikap di kalangan akademisi yang hanya mau menerima sumber tertulis dan kurang menghargai sumber tertulis. Pandangan itu disimpulkan dengan pernyataan, “no document, no history”, tidak ada dokumen, tidak ada sejarah. Penggunaan dokumen dipandang tinggi karena dokumen “mengungkap keabadian serta kekinian yang dapat dirangkul, diinterpretasi, dan dieksplanasi oleh sejarawan.
Sikap ini sebetulnya menutup pintu terhadap mayoritas penduduk dunia yang tidak terdokumentasi, yang lahir, hidup, dan matinya tidak tercatat. Padahal, sejarah masyarakat yang terjajah, yang tidak berdaya, buruh, wanita, anak-anak, dan minoritas etnis, jarang muncul dalam sumber tertulis. Dengan metode sejarah lisan, mereka yang diam telah diberi suara.
Revolusi sosial meledak di Tiga Daerah tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno-Hatta. Kekosongan kekuasaan akibat takluknya Jepang kepada Sekutu dan keragu-raguan serta sikap pasif pangreh praja mendorong rakyat yang telah dibakar semangat kemerdekaan untuk bertindak cepat dan radikal.
Malam. Tanggal 7 Oktober 1945, sehari setelah pemakaman korban Kenpetai. Di desa Cerih, daerah miskin penghasil singkong di wilayah perbukitan Tegal Selatan yang terkenal dengan pusat gerakan radikalnya, bergolak. Serombongan rakyat dengan membawa obor bergerak mengepung rumah Den Mas Harjowiyono, lurah desa tersebut,. Rakyat mengancam apabila lurah tidak keluar, rumah itu akan dibakar. Pagi harinya, dengan berpakaian resmi Den Mas Harjowiyono akhirnya menampakkan diri. Ia menanyakan kesalahannya. Sebagai jawaban, rakyat melucuti pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan karung goni, sedangkan istrinya dikalungi padi. Kemudian lurah beserta istrinya itu diarak beramai-ramai keliling desa, diiringi bunyi-bunyian gamelan milik lurah yang melambangkan kedudukan dan kekuasaan. Mereka dihina dan diperlakukan seperti ayam, dipaksa minum air mentah dari tempurung kelapa dan makan dedak. Aksi massa itu dalam tradisi setempat disebut dengan dombreng, ritual yang biasanya kenakan pada para pencuri atau pejabat korup.
Dalam waktu singkat, aksi massa itu menyulut aksi serupa di seluruh wilayah Tiga Daerah. Revolusi sosial meledak tanpa dapat dicegah lagi. Tanpa memandang latar belakang agama, ideologi, golongan, maupun kelompok, serentak rakyat bergerak bersama menghancurkan sumber penindasan dan penderitaan mereka selama itu.
Tanah tuan tanah maupun tanah bengkok milik lurah diambil alih dan dibagikan secara merata kepada rakyat. Gudang-gudang pangan milik orang kaya yang ditimbun pada masa pendudukan Jepang dibongkar, dan dibagi-bagikan. Begitu pula tempat-tempat penyimpanan tekstil, tidak luput dari serbuan rakyat. Elemen-elemen kolonial/feodal seperti pangreh praja disingkirkan dan sebagai gantinya dibentuk badan pekerja yang dipilih secara lebih demokratis untuk menjalankan administrasi pemerintahan sehari-hari. Bahasa Jawa Kromo yang hierarkis dilarang buat selama-lamanya. Rakyat diharuskan memakai bahasa Jawa Dipo atau Ngoko yang lebih egaliter. Panggilan yang berbau feodal seperti ‘nDoro’, ‘Raden’, ‘Abdi’, ‘Paduka’ dihapus, diganti dengan ‘Bapak’, ‘Bung’, atau ‘Saudara’. Tak pelak lagi, revolusi sosial adalah semangat rakyat untuk membongkar struktur dan nilai-nilai masyarakat kolonial/ feodal menjadi tatanan masyarakat yang lebih demokratis dan egaliter.
Dalam studinya Anton E. Lucas tidak sekedar menyoroti peristiwa Tiga Daerah berdasarkan faktor sosial-ekonomi, melainkan juga faktor kepemimpinan, ideologi, dan konteks kebudayaannya—apa arti revolusi bagi pelakunya sendiri. Yang menarik, adalah dinamika dalam revolusi sosial itu , yakni mulai terbentuknya kristalisasi, konsolidasi, dan kemudian polarisasi antar kekuatan sosial dalam badan perjuangan. Sebagai contoh, demi mengukuhkan persatuan antar-elemen revolusioner seorang santri dipilih sebagai bupati, meskipun kaum komunis radikal lah yang mendominasi badan pejuangan.
Dengan gaya bertutur deskriptif-naratif, Anton E. Lucas berhasil membuat peristiwa Tiga Daerah menjadi jalinan cerita yang memikat, tidak seperti teks sejarah umumnya yang kering, formal, dan sering membosankan. Di sisi lain, gaya bertutur seperti itu memungkinkan penulis untuk menggambarkan kompleksitas peristiwa secara lebih mendalam dan menyeluruh. Pemahaman tersebut tentu akan sangat berguna, khususnya bagi aktivis gerakan, bagaimana membangun suatu aliansi antar-kekuatan, mengkonsolidasi, dan mengelakkan klik-klik yang mungkin timbul demi terwujudnya transformasi sosial yang diharapkan.


